Skip to main content

Akhir Pekan tanpa Skripsian


Weekend kali ini berbeda dengan weekend-weekend sebelumnya. Jika sabtu-sabtu yang lalu aku mengisinya dengan skripsian, maka sabtu ini aku sudah tidak lagi mengotak-atik tugas sakral yang sangat aku banggakan itu. Pasalnya tugas mulia itu sudah selesai ku kerjakan bulan lalu. Ya mau bagaimana lagi, kan skripsinya sudah selesai. Hehe99x.

Udara pagi ini terasa sangat sejuk dan bersih. Pepohonan dan kebun terlihat jernih. Di depan kontrakanku terdapat kawanan burung yang sedang berkicau dengan riang. Di tempat yang sama, sekelompok ayam milik tetangga sedang mengais tanah. Aku tidak tahu apa maksud mereka yang sebenarnya. Apakah mereka sedang mencari butiran-butiran beras yang jatuh atau karena kaki mereka sedang gatal?

Sabtu yang begitu jernih. Langit terlihat begitu artistik dengan hamparan awan yang menghiasi. Mungkin Tuhan sedang mengisi weekend dengan melukis di langit luas. Perpaduan warna langit, hamparan awan, serta pepohonan yang segar semakin melengkapi suasana Sabtu. Aku bahkan tidak tahu kapan para pegawai Tuhan membersihkan dan mengelap lingkungan di sekitarku ini sehingga bisa sangat begitu sedap dipandang. Apakah tadi malam hujan? Kata Niken sih tidak.

Sebagian orang sangat menunggu Sabtu untuk beristirahat setelah satu pekan disibukkan dengan berbagai aktivitas. Sedikit berbeda dengan sebagian orang, aku memilih mengisi weekend kali ini dengan me time. Duduk di teras kontrakan dengan mendengarkan alunan lagu milik Alec Benjamin serta membaca novel yang kudapat dari meminjam. Iya meminjam. Sabtuku terasa sangat menyenangkan setelah selesai mengerjakan ini dan itu. Hmm benar-benar weekend yang sempurna.

Comments

Popular posts from this blog

Tamu 9 Jam

Mereka telah tiba di depan kos putri berwarna hijau toska. Di depannya dihiasi pagar dengan warna senada. Bangunan itu masih terlihat berduka. Oman mematikan mesin motornya dan memandangi wajah kekasihnya, Lail, yang sudah turun lebih dulu. Ia sengaja hanya memakirkan motornya di depan gerbang kos karena harus segera pulang. Sebelum Lail masuk ke dalam kos, seperti biasa, Oman membekalinya dengan berbagai janji-janji manis yang berakhir membusuk. Tetapi meski pun demikian, Lail tetap sangat mencintainya. Sudah hampir sembilan bulan ini Lail sedang menjalani program magang menjadi budak cinta. “Makasih ya babs buat hari ini, buat sharing buku yang sangat mengesankan. Walau pun kamu pengangguran, rasa cintaku ke kamu tetap berhamburan hehe”. Rona pipi Lail mulai memerah seperti punggung Angling Dharma setelah dikerokin. “Ngomong apa sih kok kayak orang tolol?” balas Oman pada sang kekasih. Lail melangkahkan kakinya memasuki kos. Sementara Oman menyalakan motornya kemudian pu...

Ras

Ada dua kemungkinan yang akan kita temui dalam hidup: negasi dan konfirmasi. Dari dua kemungkinan itu kita dapat memilih antara ya dan tidak, semisal menyenangkan dan tidak menyenangkan. Bertemu dengan orang baru merupakan hal yang menyenangkan, setidaknya begitulah kata seorang teman. Seorang teman yang lain pernah mengatakan juga bahwa bertemu dengan orang baru hanya akan menambah daftar orang yang akan membencinya. Tentu saja ini menjadi negasi dari hal yang menyenangkan ketika bertemu dengan orang baru. Dari pernyataan kedua temanku tadi, doaku ketika bertemu dengan orang baru tidak pernah berubah: “Ya Allah, semoga dia bukan orang selanjutnya yang akan aku benci hingga hari pembalasan”. Aku setuju pada salah satu dari pernyataan temanku tadi: bertemu dengan orang baru merupakan hal yang menyenangkan (tentunya ini akan terwujud apabila syarat-syaratnya telah dibayar lunas). Altman dan Taylor mengibaratkan manusia seperti bawang merah. Jika kita mengupas kulit terluar bawang, mak...

Ganesa dan Lele

Sore itu aku dan Aiq pulang dari Ganesa, tempat favorit kami untuk menunaikan tugas mulia. Fyi aja, Ganesa itu merupakan sebuah tempat untuk...... Ya itu deh pokoknya.  Ketika sedang di perjalanan, kami pun tentunya melanjutkan kebiasaan kami yang tak pernah tertinggalkan. Kebiasaan itu adalah -bingung-.  Bingung kali ini diprakarsai oleh cuaca mendung yang membuat kami lapar. Ya maklum saja, berjam-jam di Ganesa membuat kami merasa sangat kelaparan. Aku baru tau bahwa berjam-jam bernapas di Ganesa bisa membuat selapar ini. Tapi aku nggak tau, apakah metabolismeku yang terlalu cepat ataukah ada komunitas cacing yang sedang merayakan hari raya idul qurban dalam perutku sehingga rasa lapar itu cepat sekali datangnya. Tolong mba Debra dan mas Michael, Ganesanya dikasih kantin dong agar supaya 😑. Beberapa menit di perjalanan.... "Makan apa ya?" aku dan Aiq saling lempar pertanyaan yang sama. Tentunya pertanyaan itu membuat kami semakin bingung. Aiq yang nggak suka ...