Skip to main content

Posts

Tutup Buku

"Hai kamu sedang di mana?" Berulang kali aku melihat deretan angka pada jam di gawaiku, dan angka-angka itu terus-menerus bertambah dengan cepat. Pertanyaan Aiq melalui pesan WhatsApp membuatku semakin ingin menghilangkan diri dari hari itu. Langit Yogyakarta sangat benderang. Ada kemungkinan bahwa karyawan Tuhan sedang berbaik hati pada langit Jogja kala itu, mendung tetapi bersih. Atau mereka sedang memiliki teknik baru dalam melukis sehingga kombinasi langitnya sangat bagus? Mungkin. Jumat siang itu aku akan menunaikan jadwal bertemu dengan seseorang. Seseorang yang hampir tidak pernah absen dari pikiranku. Pernah dan sedang mencintainya adalah sebuah paket terindah dari Tuhan yang sedang kusyukuri. Sehari sebelumnya, aku dan Aiq masih berdikusi mengenai pertemuan ini, akankah dilanjut atau dibatalkan saja. Setelah melalui banyak pertimbangan, aku memutuskan untuk tetap melanjutkan pertemuan dengan seseorang ini. Sebelumnya, sebelum tiba pada hari itu, aku masih men...

Beliau

Beberapa kali aku mengajukan permohonan pada alam semesta untuk menghapus hari Sabtu di tahun depan, namun sepertinya tak akan dikabulkan. Tentu saja aku sangat tidak senang dengan hari Sabtu. Hari di mana aku harus setuju dengan keputusan-keputusan yang dibuat oleh orang lain; tidak ada pilihan lain untukku. Di hari Sabtu kutemukan negative vibe lebih mendominasi dibandingkan sebaliknya . Dan lagi-lagi aku tidak diperkenankan untuk memilih pilihan yang lain. Atau pada akhirnya berujung dengan “yaudahlah mau gimana lagi.” Menurutku, Sabtu adalah hari di mana orang berlomba-lomba untuk menunjukkan padaku akan kepunyaan mereka; termasuk di dalamnya meliputi power, harta, relasi, latarbelakang pendidikan, kelas sosial, atau sejenisnya. Dan ya, tentu saja aku tidak peduli. Aku hanya mempedulikan bagaimana agar bisa bebas di hari Sabtu. Atau jika mau, kita bisa mengobrol di hari selain Sabtu. Singkatnya, aku hanya ingin libur. “Aku tak membantah omongannya. Karena aku tak perlu tidak se...

Sihir

Bersemayam bangunan usang Tertiup debu dan terik siang Tiang penyusunnya rapuh Dinding-dindingnya hampir runtuh Mencekam dan tidak teduh Bangunan ini kehilangan ruh Ditinggal pemiliknya untuk meredakan keluh Hingga sang bayu datang Menyapa bangunan usang Menyentuh perabotan yang tak layang pandang Menyeimbangkan oksigen dan karbondioksida yang telah hilang Menegakkan kembali kayu-kayu yang telah menjadi abu Menghidupkan edelweis yang telah layu Membuat bangunan usang menjadi seperti baru Kenapa?

Kesal

Aku salut pada orang-orang yang kesabarannya luas banget dan bisa untuk tidak mengekspresikan marah atau kesal secara serampangan. Mungkin pertanyaanku hanya satu untuk orang-orang macam ini; how come? Kuk bisa sih??? Setidaknya ada beberapa teman yang terekam di dalam ingatanku, sebagai orang yang hampir dan bahkan tidak pernah terlihat marah sedikit pun. Yeye dan Sofyan misalnya, dua orang teman yang selalu membawa aura positif. Selalu senyum, senyum, senyum, senyum, dan sabaaaaaaaaar. Sabar adalah nama tengah mereka. Berbeda denganku, aku bahkan tidak bisa untuk tidak menyalurkan rasa marah atau pun kesal. Haha memangnya cuma bakat aja yang bisa disalurkan? (Nabi Muhammad Saw. pasti sedih membaca ini huhu). Nasihat nabi bilang bahwa “orang yang kuat bukanlah orang yang dst dst dst). Udahlah Eka lemah udaaah. Aku mengakui bahwa diriku sendiri memang susah untuk menahan kesal. Bahkan tidak bisa untuk hanya sekadar “haha santae ajaaa. Aku kan beriman, nahan marah doang mah gampi...

Sempat

Sempat, aku kamu dan kafein Berbincang perihal hari Senin Menanyakan sisa pertanyaan kemarin Selasa menjadi Senin Rabu menjadi Senin Kamis menjadi Senin Jumat menjadi Senin Sabtu Minggu libur Kemudian semua hari menjadi sama Hingga tiada lagi kita di sana Januari masih basah Ada rindu yang pernah Kemudian sudah

(tanpa judul)

“Kalau ternyata hal buruk yang dibayangkan terjadi, sedihnya ganda dong?” tanyamu kala itu ketika aku membahas mengenai negative thinking pada buku Filosofi Teras. ……….. Sekarang sedihnya benar-benar terasa double. Tidak pernah dicita-citakan tetapi menjadi kenyataan. Melihatmu benar-benar pergi (sebenarnya aku jijik sekali dengan diksi satu ini). Setelah ini akan banyak kebudayaan yang hilang di antara kita. Tidak akan ada lagi orang yang menanyakan hal-hal random, yang membuatku kesal, tapi selalu menjadi candu. "Emang tujuan masak biar apa?" Tanyamu. Tidak akan ada lagi yang mengeluhkan "rambutku apa direbonding aja ya, bosan kribo" tanyamu juga, dan semakin ke sini aku semakin tahu bahwa wacana potong rambut tidak pernah terwujud, setidaknya sampai sekarang. Iya kan? Dan pertanyaan-pertanyaan template lainnya seperti "Kangen siapa?", "Mukbang itu apa sih?". Di awal farewell dulu, kamu menanyakan apakah aku akan pulang duluan sama ...

Ice Breaking

Dia di hadapanmu Kamu di hadapannya Kalian duduk Dia memandangimu Kamu memandanginya Hening Sendok yang kamu pegang terjatuh Grombyang Dia melihat sendok itu Kamu melihat sendok itu Kalian saling memandang Tersenyum Tertawa Hahaha

Tamu 9 Jam

Mereka telah tiba di depan kos putri berwarna hijau toska. Di depannya dihiasi pagar dengan warna senada. Bangunan itu masih terlihat berduka. Oman mematikan mesin motornya dan memandangi wajah kekasihnya, Lail, yang sudah turun lebih dulu. Ia sengaja hanya memakirkan motornya di depan gerbang kos karena harus segera pulang. Sebelum Lail masuk ke dalam kos, seperti biasa, Oman membekalinya dengan berbagai janji-janji manis yang berakhir membusuk. Tetapi meski pun demikian, Lail tetap sangat mencintainya. Sudah hampir sembilan bulan ini Lail sedang menjalani program magang menjadi budak cinta. “Makasih ya babs buat hari ini, buat sharing buku yang sangat mengesankan. Walau pun kamu pengangguran, rasa cintaku ke kamu tetap berhamburan hehe”. Rona pipi Lail mulai memerah seperti punggung Angling Dharma setelah dikerokin. “Ngomong apa sih kok kayak orang tolol?” balas Oman pada sang kekasih. Lail melangkahkan kakinya memasuki kos. Sementara Oman menyalakan motornya kemudian pu...

Ras

Ada dua kemungkinan yang akan kita temui dalam hidup: negasi dan konfirmasi. Dari dua kemungkinan itu kita dapat memilih antara ya dan tidak, semisal menyenangkan dan tidak menyenangkan. Bertemu dengan orang baru merupakan hal yang menyenangkan, setidaknya begitulah kata seorang teman. Seorang teman yang lain pernah mengatakan juga bahwa bertemu dengan orang baru hanya akan menambah daftar orang yang akan membencinya. Tentu saja ini menjadi negasi dari hal yang menyenangkan ketika bertemu dengan orang baru. Dari pernyataan kedua temanku tadi, doaku ketika bertemu dengan orang baru tidak pernah berubah: “Ya Allah, semoga dia bukan orang selanjutnya yang akan aku benci hingga hari pembalasan”. Aku setuju pada salah satu dari pernyataan temanku tadi: bertemu dengan orang baru merupakan hal yang menyenangkan (tentunya ini akan terwujud apabila syarat-syaratnya telah dibayar lunas). Altman dan Taylor mengibaratkan manusia seperti bawang merah. Jika kita mengupas kulit terluar bawang, mak...

Dia dan Ketangguhannya

Aku masih melihat dia di sana, berdiri beberapa meter di depan rumahnya, di pinggir jalan. Rumah itu menghadap ke arah jalan dan dihiasi tanaman pagar yang mengelilingi. Dia masih terlihat muram sama seperti saat pertama kami berpapasan. Pasalnya ini bukan kali pertama aku melihat dia berdiri di depan rumahnya dengan raut wajah yang lesu, melainkan setiap hari. Dari Senin hingga Senin ku melewati rumahnya, aku selalu melihat dia dengan pandangan jauh entah kemana. Murung, lesu, lusuh, dan berselimut debu. Di pagi hari ia sudah berada di sana. Siang hari pun juga. Bahkan sore kemarin aku masih saja melihatnya dengan keadaan yang sama, benar-benar berdiri tepat di titik yang kemarin. Berdiri dengan pandangan lesu sepanjang hari. Benar-benar hobi yang tidak menjanjikan, pikirku. Sering aku berniat untuk menyapanya atau bahkan mampir dan berbincang lalu kemudian menanyakan mengenai hobinya yang langka itu. Namun selalu kuurungkan. Pernah di suatu hari juga aku sangat tidak tega meli...

Berkunjung ke Desamu

Ku ambil kunci motor di meja kamarku. Kemudian aku berdiri sekali lagi di depan cermin memandangi sesosok perempuan yang tentu saja adalah diriku sendiri. Tidak ada yang salah dengan outfit itu, kulot hijau, kaos putih, dan kerudung abu-abu. Sekali lagi aku memperhatikan penampilanku. Dan ya, setiap kali melihat cermin yang berada di lemari kamarku, aku selalu tersenyum tipis melihat satu nama yang tertulis di stiker lemariku; namamu. Sore itu aku dan ibuku akan pergi ke pasar sore yang terletak di desamu. Kata ibuku, pasar sore di desamu selalu ramai pengunjung yang tengah sibuk menyiapkan hidangan berbuka puasa. Oh ya jelas saja ibu, jika sepi pasti bukan pasar namanya melainkan turnamen catur, pikirku. "Nanti ke pasar sore yuk" ajak ibuku saat siang Ramadan kala itu. Setelah siap, kami pun berangkat. Meter demi meter jalan ku lalui dengan sesekali mendengarkan pertanyaan-pertanyaan ibuku yang terdengar sayup-sayup. Rasanya waktu itu ingin ku jawab saja "haha ...

Bunga Tidur

Tanpa melakukan apa pun, Dea langsung saja merebahkan badannya di tempat tidur. Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, anggota KKN itu telah sampai pada sebuah desa tujuan. Meskipun terdapat banyak rumah, desa itu tetap terlihat sepi seperti tak berpenghuni. Suara gemericik air sungai dan pohon-pohon besar menambah kesan mistis di desa itu. Rumah yang akan ditempati Dea bersama delapan orang temannya benar-benar berada jauh dari keramaian. Untuk sampai pada rumah itu, Dea dan beberapa temannya harus melewati jalan setapak yang menanjak serta bebatuan.  Dalam satu bulan ke depan, rumah itu akan menjadi posko tempat tinggal Dea dan beberapa temannya. Dea dan keempat temannya telah sampai pada desa itu terlebih dahulu sementara empat teman lainnya akan tiba di hari kedua karena masih menyelesaikan urusan di kampus. Kedatangan lima anggota KKN itu disambut baik oleh Kepala Desa beserta istrinya, bapak pemilik posko dan juga beserta istrinya. Setelah selesai menyampaikan maks...

Matahari yang Bangun Tidur Kesorean

Minggu, akhir pekan yang selalu dinanti-nanti oleh sebagian orang untuk merebahkan badan setelah melakukan rutinitas padat selama satu pekan. Tidak hanya orang-orang yang ingin beristirahat dari kesibukan, namun matahari di langit desaku pun juga. Matahari yang setiap hari menjadi perbincangan ibu-ibu, kini tak menampakkan teriknya sejak tadi pagi. Mungkin matahari lelah atau tadi malam bergadang panjang sehingga belum bangun dan malu untuk memperlihatkan diri. “Jam segini baru bangun??” tentunya matahari tak ingin mendapatkan pertanyaan itu dari ibu-ibu di desaku. Sejuk udara di hari Minggu ini, membuat adikku berulang kali mengatakan bahwa udaranya terasa sangat segar. “Mbak udaranya segar sekali ya” kalimat yang diucapkkan adikku sebagai pujian hari libur kali ini. Dia mengucapkan kalimat itu sekali lagi, lagi, dan lagi hingga rasanya aku ingin men-silent adikku. Namun kuurungkan niat itu mengingat memang begitulah ujian di bulan puasa. Aku duduk di halaman samping rumah...